Burung berkicau terasa ramai sekali disebuah desa pelosok di sekitar kota Yogyakarta. Gadis cantik nan manis berkepang dua itu terpesona oleh keindahan warna burung yang mempesona. Tia setiap pagi selalu menyapu halaman rumahnya, tidak lain tidak bukan memang untuk membantu Ibunya. Bangun pukul 5 pagi membuatnya selalu merasa baik karena dapat menghirup udara segar disekitar rumahnya yang masih asri. Gadis 15 tahun ini selalu bersenandung bak menjawab kicauan burung yang indah tadi. Hingga membuat sang remaja yang bertempat tinggal diseberang rumahnya ikut terbangun mendengar suara merdu Tia, bak alarm bagi Iqbaal . "apa kau tak bisa mengecilkan suaramu sedikit agar aku tidak terbangun dipagi buta seperti ini?" sahut Iqbaal dari jendela kamarnya yang memang mengarah langsung di daerah halaman rumah Tia. "maafkan aku" dengan wajah berseri seri Tia langsung berlari kedalam rumah untuk menghindari tatapan Iqbaal yang tajam itu.
Iqbaal selalu kesal oleh apapun yang diperbuat tetangganya tersebut. Mulai dari "alarm" yang setiap hari dibuat Tia itu dan keharusan Iqbaal karena paksaan Ayahnya untuk setiap malam belajar bersama dengan Tia karena tingkatan sekolah mereka yang sama. Walaupun sekolah mereka berdua berebeda, Ayah Iqbaal selalu mempercayakan proses belajar mengajar Iqbaal dirumah kepada Tia karena prestasi Tia yang gemilang disekolahnya.
"jangan sok pintarlah kau ini! Ibu guru ku tidak mengajarkan cara yang sama sepertimu ini" walau kalimat itu sering terdengar oleh Tia ketika mereka sedang belajar bersama tapi Tia selalu membuat kalimat tersebut menjadi semangatnya untuk membuat Iqbaal memahami apa yang dimaksudkannya. Sikap Iqbaal yang begitu menunjukkan ketidaksukaannya kepada Tia membuat Tia hanya dapat menahan semua rasa sakit itu didalam hati. Begitu banyak alasan yang membuatnya bertahan. Kesetiaan, ketulusan, dan hal lain yang akan membuat Tia menyesal suatu saat nanti karena pernah menyakiti hati Tia.
Hati Tia akan lebih teriris ketika dua sahabat Iqbaal bermain kerumah Iqbaal. Kiki dan Ditia tidak jauh beda dengan Iqbaal. Selalu sinis dengan Tia. Entah terbuat dari apa hati Tia yang begitu selalu merasa mereka bukan musuh, bahkan sahabat yang harus diberikan senyum terindah dari diri Tia.
"baal, apa kau tidak bosan bertetangga dengan anak sok pintar ini?" tanya kekasih Kiki ini kepada Iqbaal yang terlihat selalu iri melihat rupa manis dari wajah Tia.
"ini membosankan! dari bayi sepertinya aku selalu melihat wajahnya, mendengar tangisannya" entah kalimat itu datang dari hati atau hanya dari mulut yang dapat berbohong sesukanya.
Sepasang kekasih ini sering bermain kerumah Iqbaal, tak jarang mereka juga membutuhkan bantuan Tia untuk mengerjakan tugasnya. Iqbaal selalu menyuruh ayahnya Pak Aldi meminta ke Ibu Wiwid untuk Tia dapat membantu Iqbaal dan teman-temannya membantu mengerjakan tugasnya. Apa guna gengsi jika memang membutuhkan, jadilah manusia yang selalu membutuhkan dan mau dibutuhkan. Agar seimbang dan dikelilingi dengan manusia yang penuh dengan cinta.
Kiki dan Ditia sudah merajut cinta monyetnya sejak satu tahun yang lalu. Cerita cinta remaja seperti mereka sudah sangat umum terlihat dikalangannya. Walau Kiki sering sering ganjen dengan wanita lain dan Ditia yang pencemburu tapi mereka dapat tetap saling percaya bahwa Kiki hanya milik Ditia begitupun sebaliknya. Iqbaal sering kali iri melihat kemesraan yang terjalin antara kedua sahabatnya tersebut tapi Iqbaal selalu mencoba untuk menutupi karena Iqbaal masih enggan untuk berpacaran. Tak banyak alasan untuk Iqbaal melakukan itu. Hanya satu, tak ingin membagi rasa cintanya kepada orangtua untuk orang ketiga. Setiap anak mempunyai rasa cinta yang begitu besar kepada orangtuanya. Anak badung sekalipun, bahkan bisa lebih besar dari apa yang dipikirkan.
"pak Aldi, tolonglah ajarkan Iqbaal itu jangan kasar-kasar kepada Tia kasihan anak saya" sahut Ibu Wiwid yang tidak terima anaknya sering disakiti oleh Iqbaal.
Ibu Wiwid dan suaminya bapak Babas sering bertengkar dirumahnya, inilah yang membuat Tia menjadi sosok yang lebih tegar karena ombak dunia yang sering menerpanya. Kedua orangtuanya yang sering bertengkar adalah tolok ukur dimana Tia harus selalu merasa iri melihat Bapak Aldi dan Ibu Dinda selalu harmonis ketika merawat anaknya. Begitu besar dampak Tuhan untuk umatnya. Tidak setiap kisah itu bahagia, tatkala harus meratap dan menunduk adalah contoh dari sikap yang bijaksana.
Entah apa yang membuat Tia selalu baik kepada Iqbaal walau Iqbaal sering menyakiti hatinya.
Suatu hari ketika Tia disuruh Ibunya membersihkan kamar Tia menemukan sebuah kotak usang di kamar Ibunya. Kotak itu berisi perhiasan Ibunya yang tidak pernah dipakai dan benda benda asing lainnya yang tidak pernah dilihat oleh Tia. Termasuk sebuah foto yang membuat Tia bertanya seribu bahasa. Hanya dapat menebak-nebak tanpa ada bukti yang kuat.
Ketika Tia mengotak-atik isi didalam kotak itu tiba tiba pak Babas masuk kedalam kamarnya dan melihat Tia sedang membuka-buka kotak milik Ibu Wiwid itu. "apa ibu juga menyuruhmu membereskan itu nak?" dengan nada halus tapi menyindir, bapak Tia bertanya kepada anaknya. "tidak pak. Maaf tadi Tia kira ini kotak sudah tidak terpakai".
Tanpa basa basi Tia langsung menjauhkan kotak itu darinya dan bergegas membersihkan bagian lain sebelum banyak pertanyaan lagi dari sang Bapak untuknya.
"apa kau tau jika ini akan membuat sakit kedua anakmu?" tanya pak Aldi kepada istrinya serta Bu Wiwid dan Pak Babas yang sedang berkumpul diteras rumah Pak Babas. "sampai kapan kau akan meneruskan ini semua?" pertanyaan dari Pak Aldi itu membutuhkan jeda sedikit banyak karena tengah melihat istrinya mulai sesak menahan tangisannya.
Ini tak seperti biasanya Tia, Iqbaal, Ditia, dan Kiki datang hampir bersamaan setelah pulang sekolah. Kejadian ini tentu membuat dua keluarga yang sedang bersi tegang di teras depan rumah menjadi buyar. Berlari kesana kemari bak cacing kepanasan. "ada apa Ibu?" tanya Iqbaal sedikit berlari ketika melihat wajah Ibunya yang memerah dan matanya mengeluarkan airmata.
"sakit hati ini melihat sosoknya. Hukum aku jika ini salahku Tuhan tapi tak dapat kupungkiri bahwa aku tak pernah mencintainya" jawab Ibu Dinda kepada pertanyaan Iqbaal hanya didalam hati.
"nak, Ibu ingin bicara dengan mu" Ibu Wiwid memasuki kamar Tia tak lupa membawa sebuah kotak usang yang pernah ditemukan Tia di kamar Ibunya. Tia yang sedang belajar dikamarnya hanya tersenyum seolah mempersilahkan apapun yang ingin dikatakan Ibunya. Kini mereka berdua tengah duduk bersebelahan dikasur sederhana milik Tia. "maafkan Ibu.... Maaf nak" Tia hanya dapat memeluk Ibunya dan menahan airmatanya agar tak ikut menangis seperti yang sedang dilakukan Ibunya. Selang beberapa menit Pak Babas ikut masuk kekamar Tia. Ini tak seperti biasanya. "Anakku maafkan bapak nak" tingkah pak Babas lagi lagi membuat Tia enggan menatap kedua mata kedua orang tuanya yang tengah memerah.
"kau tau ini siapa?" Ibu Wiwid membuka kotak usang itu dan mengeluarkan sebuah foto yang menyimpan berjuta pertanyaan untuk Tia. "tidak bu, memang ini foto siapa?" dengan polosnya Tia mengambil foto itu dari tangan Ibunya dan melihat foto itu dengan lebih saksama. "Ini....... Ini kamu nak dan yang Ini......." di foto itu tergambar 2 bayi mungil dengan kedua orangtuanya sedang foto bersama. Rona bahagia tergambar jelas di foto tersebut.
Sesak tangisan diluar kamar Tia samar samar terdengar, Tia meninggalkan foto itu dan keluar melihat siapa yang ada diluar kamarnya. "Tante, kenapa menangis? Ada apa ini? Dimana Iqbaal? Iqbaal tak biasanya tega meninggalkan tante ketika sedang seperti ini?" tanya Tia kepada Ibu Dinda yang ternyata.beliaulah orang ketiga yang sedang terisak diluar kamar Tia. "itu foto kamu dan Ii.....q....baaaaa......l nak" jawab Ibu Dinda seperti tak tega melontarkannya. Tia terperanjak karena apa yang dilihatnya difoto itu, semua sama. Dari baju, selimut yang membungkus kedua bayi itu. Semua sama. Seperti kembar. "iya nak kalian berdua kembar. Iqbaal dan Tia kembar" tiba tiba Pak Babas menghampiri Ibu Dinda dan Tia yang sedang duduk tergeletak dilantai. "haaa lalu???" tanya Tia yang hanya dapat bertanya dan bertanya. "aku bapakmu dan Ibu Dinda Ibumu. 16 tahun lalu Bapak dan Ibu Dinda khilaf nak. Ketika Ibu Dinda telah melahirkan anak bapak dan ternyata kembar kita sepakat untuk membagi bayi itu. Pak Aldi sudah memaafkan bapak walau ketika itu Pak Aldi hampir membunuh bapak. Setelah kejadian itu Bapak cepat2 mencari istri agar ada yang merawatmu nak. Maafkan bapak" Tia hanya menunduk. Semua pertanyaan telah terjawab. Semua yang ditakutkan telah terungkap. Rasa cinta yang tulus ternyata rasa cinta untuk adik dan kakak. Kedua orangtua yang terpecah belah. Semua gelap. "Iqbaal dimana?" tanya Tia seketika mengingat Iqbaal yang kini telah menjadi saudara kembarnya. "Iqbaal pergi nak mungkin kerumah Kiki".
Tanpa basa basi Tia berlari sekencang-kencangnya menuju kerumah Kiki. Karena jarak rumah Tia dan Kiki tidak jauh Tia memberanikan diri untuk mencari Iqbaal seketika itu juga.
"apa kau tak tau Ki aku menyimpan rasa ini. Menyembunyikannya rapi-rapi. Mengenggam dia sekuat hati ini. Tapi apa? Kedua orangtuaku yang merusaknya. Aku berharap dia menjadi pasangan hidup ku Tidak saudara kembarku" Iqbaal menangis. Tia baru pertama kali ini melihat Iqbaal menangis. "baal dia ada di......" Kiki mengetahui keberadaan Tia dan dengan sekejap Iqbaal membalikkan kepalanya dan Tia mulai berjalan mendekat Iqbaal menatap dalam dalam mata Iqbaal. "aku mendengar semuanya saudara kembarku" Ucapan Tia bak menjambak hati Iqbaal. "Aku tak ingin kita menjadi saudara kembar" jawab Iqbaal hanya didalam hati.
Semua telah terungkap. Ketika Hati yang Bicara hanya mata yang mampu mengartikannya. Ketika takdir telah memisahkan, walau jarak tak memisahkan. Ini lebih sakit dari apapun yang memaksanya untuk bersamanya. "Biarkan cinta kalian tinggal disini. Jadilah saudara kembar yang saling menyayangi" Kiki mulai menengahi sembari melupakan kebencian Kiki dengan Tia yang selama ini hanya candaan karena diperbudaya oleh Iqbaal agar dapat menutupi rasa cintanya untuk Tia.
Ditulis oleh Desiana Kartika Dewi (@dsianakd)
pemublikasi Isnafinda K Alfath (@isnafinda)
dari @ComateHitzzz_

0 komentar:
Posting Komentar