Langit Sore

by Jumat, Mei 15, 2015 0 komentar

Matahari perlahan masuk melalui celah-celah jendela kamar ini. Itu tandanya hari sudah pagi. Terlihat seorang perempuan cantik sedang tertidur pulas di kamar ini.Cahaya menerpa gadis itu, ketika itu pula alarmnya berbunyi. Mau tidak mau gadis itu pun harus terbangun karena harus sekolah.
Setelah mempersiapkan diri, Vey sudah siap ke sekolah dengan seragam putih abu-abunya. Vey berjalan menuju sekolah, karena mobilnya sudah dibawa ayahnya sejak pagi buta tadi, Vey tidak ada tumpangan hari ini. Dia berjalan dengan senang, sambil menikmati udara pagi, dan melihat daun-daun yang masih basah, Vey jarang sekali mendapatkan hal seperti ini.
Memasuki kelas Vey masuk dan duduk dikursi biasanya dekat jendela disamping sahabatnya, tapi kelas masih cukup sepi. Di kelas baru Vey yang berangkat, padahal hari ini dia jalan kaki tapi kenapa dia msih yang terpagi dikelas?
“Selamat Pagi Adara Veranda Myesha Larina ” salam dari siswa kedua yang datang pagi ini, Iqbal.
“Pagi juga Rio, tumbenan udah berangkat” sapa Vey balik.
“Iya dong, biar bisa makin lama liat kamunya”
“Hahahahahaha” Vey dan Rio terkekeh bersama.
      Satu persatu manusia di kelas semakin banyak pengisinya, hingga bel jam 7.10 kursi di kelas sudah mempunyai tuan semua.
“Vey, nanti pulang sekolah jalan yuk!” Ajakan Yara teman semejaku membuyarkan lamunanku.
“iya deh Ra, apasih yang enggak buat kamu” jawab Vey, tanpa menengok ke Yara
“Yeayy, makasih ya Veranda ku” Yara tampak senang sekali, padahal sudah biasa Vey menyanggupi ajakan Yara, tap entahlah kali ini Yara tampak lebih berbeda.
“Aku ikut dong, masak jalan berdua doing” Iqbal tiba-tiba nimbrung.
Vey dan Yara menengok ke belakang mencari sumber suara
“Boleh aja, Ayo makin banyak makin seru kok” jawab Yara selalu antusias.
“ehh…” gumam Vey tapi cukup keras.
“kenapa Vey?” Tanya Iqbal dan Yara barengan.
“oh, Gapapa kok, iya gabung aja” jawab Vey, yang sebenarnya Vey gak suka kalau Iqbal ikut, tapi yasudahlah sekali ini saja, atau selanjutnya juga? Entahlah.
“Heh, kalian jangan berisik atau keluar dari kelas sekarang juga!!!”
Bentakan dari Pak Hafidz guru killer matematika, mengagetkan mereka bertiga. Segera Vey dan Yara memperbaiki sikap, dan segera menulis apa yang ada dipapan tulis atau malah hanya sok menulis.

“mau kemana kita?” Tanya Vey sambil memberesi peralatannya k etas, karena bel tanda pulang sekolah telah berbunyi.
“mall aja ya??  Ya ya?? Kata Yara yang sangat antusias
“iya deh, terserah” jawab Vey dan Iqbal barengan.
“cie barengan jawabnya” goda Yara sambil menyikut Vey.
“Kan jodoh Ra, masak kamu gak tau sih” jawab Iqbal sambil terkekeh.
“Apaan sih, yuk buru keburu kesorean” Vey beridiri sambil menggandeng tangan Yara.
“Kok aku gak ikut digandeng Vey?” kata Iqbal sok memelas.
“Isss, ayooo bal, gak usah lebay, jijik akuu” Yara pun menggandeng Iqbal, tapi seperti menyeret.

  o0o

“Makan dulu yuk, aku laper” ajak Vey ke kedua temannya
Mereka bertiga memasuki sebuah restoran di sebuah mall. Duduk di meja paling pojok. Setelah pesanan makanan mereka datang, mereka segera makan. Restoran ini tidak cukup ramai, sehingga mereka bisa menikmati makanannya dengan nikmat.
“Aku ke toilet dulu ya” ijin Yara, karena telah menyelesaikan makannya lebih dulu
“iya” jawab Vey dengan mulut masih ada makanan.
Vey dan Iqbal melanjutkan makannya dengan penuh  keheningan, hanya ada suara pertarungan antara sendok dan garpu. Ketika gak tersisa lagi makanan di piring Iqbal, akhirnya dia memberanikan diri bersuara.
“Vey?”
“Hmm?”
“Kamu kenapa sih sama aku?”
“Kenapa apanya deh, Bal? Kalau ngomong yang jelas”
“Sikapmu ke aku yang selalu dingin. Kamu gak tau apa kalau aku itu suka sama kamu. Dan itu udah sejak lama, sejak kamu belum jadi pacar Rio, hingga kamu udah gak sama dia lagi. Aku masih suka sama kamu. Aku nunggu kamu. Kamu harusnya tau itu”
“Tapi bal, aku nganggep kamu teman. Aku belum mau lagi pacaran, belum siap lagi jika hanya untuk disakiti lagi. Kita sahabat aja” jawab Vey gemetaran, sebenarnya dia bingung mau jawab apa, tapi entah darimana kalimat itu berasal hingga bisa keluar dari mulutnya.
“HEIII!!!”
Yara muncul dengan tiba-tiba dan memecahkan keseriusan mereka. Vey tampak lega, karna Vey yakin Iqbal gak akan membahas hal itu lagi jika ada Yara.
“Muka kalian kenapa pada tegang sih?” Yara mulai menyadari sikap mereka yan kini aneh.
“Vey, aku itu beneran sayang kamu. Aku gak akan nyakitin kamu. Aku akan serius sama kamu. Aku bukan mantanmu, Vey. Kamu harus tau itu.”
Vey tercengang. Iqbal masih berani bilang? Dia kira setelah Yara datang masalah selesai, tapi ternyata tidak.
Yara yang kini tau permasalahannya hanya bungkam. Rasanya dia ingin pergi saja takut mengganggu, namun dilain hal dia juga penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Entahlah Bal, aku gak tau, dan aku gak mau tahu” Kata Vey lalu berdiri dan berlalu

 o0o
Hujan gerimis yang cukup deras, seolah ikut mengerti apa yang dialami Vey saat ini. Langit yang gelap ditambah mendung, membuat bulan dan kawannya bintang tidak terlihat malam itu. Yang ada hanya rintikan hujan dan dingin.
Vey hanya melamun memikirkan perkataan Iqbal tadi. Sebenarnya Vey tau kalau Iqbal punya rasa terhadapnya, namun Ia hanya pura-pura tidak tahu, apalagi kalau bukan itu yang dilakukan? Wanita akan bersikap biasa jika seorang laki-laki belum mengatakan hal yang sebenarnya. Tetapi untuk Vey, walaupun Iqbal serius menyukainya ia tetap tidak peduli.

“Drrtt….Drrttt…”

Hp Vey bergetar, tanda ada pesan masuk. Vey segera melupakan kejadian itu, dan mulai membuka pesan itu

 Dari Iqbal
 “Malam Verandra, lagi ngapain? Jangan lupa makan yaa J J

Vey kembali meletakkan handphonenya, dia benar benar tidak berselera untuk membalasnya. Bahkan untuk membalasnya, mengetahui pesan itu dari Iqbal rasanya Vey ingin membanting handphonenya. Tetapi Vey ingat itu handphone hasil dari tabungannya, tidak lucu jika handphonenya remuk hanya karna seorang Iqbal.

“Drrtt…Drrttt…..”

Vey tau itu pasti pesan dari Iqbal lagi, Ia hanya menengok ke Handphonenya dan tidak mau tau apa isinya. Vey meanjutkan melamun, tapi bukan tentag Iqbal. Vey malah teringat soal Rio, kekasihnya dulu. Teringat hal-hal yang manis bersamanya, kenangan indah, sikap ramahnya terhadapnya, dan teringat pula hal yang meyebabkan selesainya hubungan mereka. Vey tidak mau bersedih malam ini, ia segera mengganti topik lamunannya.

“Drrtt….Drrttt…..”
 Vey kali ini membuka pesan itu, dan benar saja itu hanya dari Iqbal.
Dari Iqbal
Iya aku tau kamu tidak menyukaiku. Tapi biarkan aku peduli dan sayang sama kamu J J

Dari Iqbal
Jangan tidur malem-malem, jangan lupa berdoa…. GutNite J :*


o0o
Sejak saat itu, Iqbal tidak pernah alpha untuk menyapa Vey, bahkan selalu menanyakan keadaannya. Sebenarnya Vey sangat risih, tapi kini dia sudah terbiasa dengan hal itu.Vey masih tidak suka dengan Iqbal. Memang Iqbal tergolong anak yang bandel, malas belajar, sembarangan dalam melakukan hal lain. Tetapi jangan salah, Iqbal mempunyai wajah yang lumayan, tidak sedikit cewek yang mengidolakannya, walaupun dia malas tapi terkadang dia mendapatkan nilai bagus ketika ulangan, karena sebenarnya memang dia bisa hanya saja malas. selain itu dia anak basket, tidak terlalu jago sih, itu hanya hobinya namun sudah mampu membuat para gadis berteriak menyebut namanya.

o0o

Bel sekolah memanggil-manggil para siswa. Mengisyarakatkan agar segera masuk kelas. Tak banyak yang memohon-mohon kepada pak satpam untuk tidak menutup gerbangnya.

"Selamat Pagi "
Siswa siswi segera membenarkan posisinya dan duduk di bangku masing-masing.
"hari ini Ibu akan membagi kalian ke 2 kelompok, setiap kelompok membuat drama, temanya bebas, namun harus dikerjakan dengan serius, deadline 4 minggu dari sekarang. Langsung saja, kelompoknya 2 baris meja dari kanan dan 2 baris meja kiri" jelas seorang guru Bahasa Indonesia ketika memasuki kelas
“Hari ini kalian membahas drama kalian, karena ibu akan ada rapat, jadi saya tinggal sebentar” tambahnya.
“Kenapa sebentar, Bu? Lama pun kami tidak keberatan kok, Bu” jawab salah seorang siswa. Mendengar hal itu siswa lain hanya tertawa dan membenarkan perkataannya.
Guru BahasaIndonesia, Bu Linda telah meninggalkan kelas. Seluruh siswa telah membentuk kelompoknya, mereka mulai mendiskusikan yang diperintah Bu Linda tadi.
Vey yang kebetulan sekelompok dengan sahabatnya, Yara dan fans berat Vey yaitu Iqbal juga membahas tentang drama mereka. Mereka akan membawakan sebuah drama tentang anak remaja, dan bertema percintaan.
“Aku yang jadi pemeran utama cowoknya ya?” minta Iqbal dengan rasa percaya dirinya.
“Kalau gitu aku yang pemeran utama ceweknya” saut seorang dari keompok itu, Bella.
“Jangan Bel, jangan kamu, kamu gak cocok kayaknya kalau sama Iqbal, gimana kalau kamu jadi orang ketiga aja. Jadi tokoh antagonis, kan kamu udah menjalaninya setiap hari” Yara yang tidak setuju pun ikut berkomentar, sedangkan yang lain hanya ikut tertawa cekikikan.
“Sialan kau, Ra. Tapi iya gak apa-apa sih, daripada gak dapet peran, hehe”kata Bella
“Vey, kamu pemeran cewek utamanya ya?”Tanya salah satu temannya, Mika.
“Hah?” Vey yang lagi-lagi melamun pun terkaget. Pikiran dia tidak ada disini, meskipun tubuh dan badannya di depan anak-anak ini. Tidak menengarkan teman-temannya berbicara.
“Ya bilang iya aja dulu”
“Iya, iya”
“Oke sip.Jadi pemeran utama cewek Vey yaa, dan Iqbal pemeran cowoknya. Selanjutnya nentuin tokoh yang lain aja…” 
“Haaahhhh??” Vey tergaket lagi, namun kali ini bukan karena tidak menyimak hal yang dibicarakan. Kaget yang berbeda.
o0o
Sudah seminggu ini Iqbal dan Vey terus-terusan berduaan, ya hanya untuk menyelesaikan tugas drama, dan mengemban amanat dari teman-temannya utuk menjadi tokoh utama. Iqbal selalu saja bersemangat, Ia selalu menggoda Vey agar ia tertular suasana hati Iqbal.
“ayolah Vey, kamu jangan badmood gitu kalau sama aku, kita baik-baik aja lah, biar dapet chemistry pas main peran nanti” hampir setiap mereka latian drama Iqbal selalu mengucapkan kalimat itu.
Adegan yang mereka perankan memang membutuhkan penjiwaan, bagaimana tidak? Di dalam dramanya ada saja adegan saling tatap, saling mengobrol dengan penuh perasaan, dan juga bergandengan tangan. Iqbal sangat tidak keberatan dengan sang pembuat teks drama ini, tetapi tidak untuk Vey.
Sampai detik ini Vey masih saja kelihatan cuek, tetapi ya tidak separah tempo dulu lah. Iqbal pun tak pernah menyerah, tetapi Ia juga tidak berharap banyak Ia hanya ingin agar selalu bisa menjaga dan melindunginya.
Oo0o
Seperti hari-hari yang lalu, Iqbal akan ada disini saat hati sedang bergelayut gundah. Sejak Iqbal sampai disini matanya tak lepas dari arakan awan hitam di langit. Gumpalan awan yang begitu tebal, menutupi mentari sore melepas sinarnya. Hingga membuat semburat jingga di ujung barat mewarnai langit biru. Menunggu langit jingga menjadi hitam, dan gelap. Selama itu,Ia menikmati angin sore, sambil berjalan-jalan melihat lampu taman yang akan mulai nyala.
“Kamu??”
Sapa Iqbal kepada sesosok orang yang sangat ia kenali. Ia kaget karena yang selama ini dia lamunkan juga berada di tempat yang sama.
“Iqbal?? Kamu ngapain ada disini? Jangan bilang ngbuntutin aku? Hayo ngaku!” Vey yang juga tak kalah kagetnya malah menuduh Iqbal.
“Enak aja. Meskipun aku suka kamu, tapi aku terlalu gak ada kerjaan kalau sampai ngbuntutin kamu. Aku kan juga punya kehidupan sendiri, tetapi dasarnya aja kita jodoh jadi ya ditemuin dimana saja dan kapan saja” Iqbal membela diri.
“Iyain aja deh”
“Kamu sendirian aja? Mending kita jalan berdua aja, eh, maksutnya jalan bareng, eh maksutnya nikmatin sore ini bareng gitu biar gak bosen” Iqbal menjadi salah tingkah sendiri ketika dihadapan Vey.
Yang tadinya ngobrol berhadapan, kini Iqbal sudah berdiri disamping Vey, mereka akan melewati sore ini bersama. Selama ini masih diam, Iqbal dan Vey sibuk dengan pikiran masing-masing, atau malah sedang memikirkan apa topik yang akan mereka bicarakan
“Kamu sering kesini?” Tanya Vey mengawali percakapan.
“Iya, kalau aku lagi kesepian, lagi kacau, lagi banyak pikiran aku selalu kesini. Pasti kamu jarang kesini ya? Atau malah baru pertama ini?”
“Hahahah iya sih baru pertama kali ini, dan ini sore yang indah. Sayang banget aku baru menyadari tempat ini hari ini.Kalau saja aku tau dari dulu pasti sore ku gak akan membosenkan”
“Jadi, setiap sore kamu bakalan kesini? Ini sih belum apa-apa,tunggu aja nanti sunset, itu sangat luar biasa”
o0o
Hari ini terasa aneh. Sudah 2 hari ini tidak ada kabar dari Iqbal.Vey merasa gelisah, berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya, hingga dia bingung mau mencari jawaban yang mana terlebih dahulu. Vey tau tidak ada hubungan yang lain diantara mereka,namun Vey sudah mulai nyaman dengannya atau bahkan sudah mulai suka. Vey sempat berpikir apabila Iqbal menyatakan perasaannya sekali lagi, dia tidak akan memberikan jawaban yang membuat hati Iqbal kecewa. Namun, sampai saat ini pernyataan itu belum dilakukan kembali oleh Iqbal. Sempat terbesit pula pertanyaan oleh Vey apakah dia sudah mulai lelah mengejarnya, Vey hanya ingin jawaban tidak.
Dering telepon Vey berbunyi. Dia sangat berharap orang itu yang menghubunginya, dia benar-benar kangen padanya. Secepatnya Vey akan mengatakan hal jujur kepada Iqbal.
“Halo”
“Hai, Vey ya??”
“Iqbal?? Ini beneran kamu Bal? kamu kemana aja selama ini? Udah 2 hari ini kamu gak ada tanda-tanda kehidupannya”
“Hehehe maaf ya cantik. Kamu kangen aku ya? Kemarin aku diajakin orang tua aku ke luar kota. Terus aku keasyikan main, terus lupa sama kamu”
“Oh, gitu” ada nada kecewa pada Vey, dia mulai kesal dengan orang yang baru saja iya kangenin.
“Hahahahah, santai to, Aku bercanda kok. Kemarin itu aku emang main, jadi sibuk gitu. Tapi aku gak lupa kamu lah, aku mau ngehubungin kamu tetapi handphoneku lowbat  terus”
Mendengar pernyataan Iqbal, Vey di seberang sana hanya senyam-senyum meskipun belum terobati oleh kekangenannya dengan Iqbal. Tapi seenggaknya sudah membuat Vey tersenyum lagi.
“Halo”
“Vey?? Kamu disana?’
“eh iya, Bal. Apa?”
“kebiasaan banget deh suka ngelamun. Ohiya besok liat sunset yuk,sama aku pengen bilang sesuatu ke kamu. See you, I love you heheh”
Tut..tut…tut…tut…Handphone Iqbal sudah dimatikan.
“I love you too Iqbal” jawab Vey, meskipun iya tau Iqbal tidak akan pernah mendengar kata yang diucap Vey barusan.Namun Vey tetap tersenyum, dan merasakan lega selega-leganya.
 o0o
Hening menyapa senja ini, warna langit yang biru pun mulai memudar, matahari mulai menghilang perlahan lahan. kupu-kupu kuning bermotif indah itu meliuk liuk mengikuti irama sungai. Seseorang yang sangat diharapkan tak kunjug memperlihatkan sosoknya. Atau mungkin dirinya lupa? Atau lupa jalan kemari? Rasanya mustahil.
      Menit tiap menit berlalu sebentar lagi langit jingga akan berubah menjadi gelap. Namun, pria itu belum datang juga, ini mengecewakan.
“Drrttt…..drrtttt….drrtttt…”
Meskiun handphonenya begetar dalam tasnya, namun Vey peka. Dia langsung mengangkat telephone. Tersura wajah bahagia di wajahnya. Tiba-tiba
“Apa???? Oke saya akan kesana sekarang “
Mendengar perkataan lawan bicara Vey, Ia langsug segera bergegas menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan tidak ada ketenangan dalam dirinya. Ia hanya berdoa agar Iqbal diberi umur panjang dan mereka bisa bersama lagi.
      Terlihat keluarga Iqbal telah menunggu di depan kamar di sebuah rumah sakit. Tidak jauh beda dengan Vey, mereka juga memasang wajah cemas. Ibunya Iqbal yang sejak tadi mondar-mandir di depan pintu kamar Iqbal mulai sadar akan kedatangan Vey. Ibunya Iqbal yakin bahwa itu Vey, gadis yang selama ini sering diceritakan oleh Iqbal, yang Ia sayangi dan yang memotivasi untuk hidupnya.
“Permisi, Tan, sebenarnya apa yang terjadi pada Iqbal? Kenapa tiba-tiba dia sakit? Sakit apa, Tan? Kenapa saya tidak pernah tau apa-apa?” Tanya Vey memberanikan diri. Bukan tidak berani sih, hanya saja Vey masih malas berbicara, karena pikirannya terpenuhi oleh Iqbal.
“Kamu Vey ya?Jadi begini sebenarnya Iqbal itu sakit, dia sakit kanker paru-paru stadium empat. Iqbal bilang kepadaku kalau dia tidak mau ada yang tau soal hal itu. Dia tidak mau dikasihani oleh teman-temannya termasuk dengan mu, Ia ingin hidup normal seperti kalian, jadi Tante menyiyakan permintaannya”
Deg. Mendengar penjelasan Mamanya Iqbal, Vey tidak bisa lagi membendung air matanya. Mama Iqbal mendekati Vey, dan memeluknya. Mereka menangis bersama.
“Tidak hanya itu, Vey. 2 hari lalu dia di rawat di rumah sakit. Awalnya Iqbal mulai batuk terus menerus, seluruh badannya terasa nyeri, dahaknya pun bercampur dengan darah dan pada akhirnya dadanya terasa sangat sakit. Segera Iqbal Tente larikan kesini, dia 1 hari kemarin sempat tidak sadarkan diri,sehari berikutnya dia mulai bangun, dia bilang ke Tante untuk tetap tidak memberitahukanmu, padahal hari itu Tante akan menelponmu dan membiarkanmu disini untuk menjaganya. Kemarin sore dia sudah diijinkan pulang oleh dokter, tetapi masih harus istirahat instensif dirumah. Namun Iqbal keras kepala, Ia memohon-mohon pada tante agar dia boleh menemuimu esoknya, atau tepatnya sore ini. Tantepun menyiyakannya lagi, karena Tante tidak mau melihat kekecewaan pada wajahnya. Tetapi tadi ketika ia hendak berangkat penyakitnya kumat lagi.”
Jadi Iqbal bohong terhadapnya? Yang katanya sedang ke luar kota, ternyata malah terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Yang katanya sibuk bermain, ternyata sibuk melakukan penyembuhan. Hati Vey sangat sakit, dia membeci dirinya sendiri, mengapa Vey tidak mengetahui hal ini? Dan mengapa Iqbal bisa mentupi hal ini dengan cerdas.Air mata Vey semakin cerdas.
      Ketika itu, dokter keluar dari kamar, mempersilahkan kami masuk satu-persatu. Mama Iqbal mempersilahkanku masuk terlebih dahulu, Ia tahu perasaanku. Vey yang merasa sangat kangen dengan  Iqbal mengapa harus bertemu dengan cara yang seperti ini.
      Perlahan Vey membuka kamar itu, dilihatnya seseorang dengan pakaian longgar berwarna hijau muda. Dimana banyak selang yang menghiasi tangan dan wajahnya, namun Iqbal tetap terlihat tampan. Vey mendekat, Ia duduk di kursi samping kasur Iqbal telelap.Vey mengampil tangan Iqbal, meletakkannya di pipi Vey. Dia benar-benar merindukannya.
“Bal, kamu bangun dong. Aku beneran kangen sama kamu. Kamu udah lelah ya ngejar-ngejar akunya? Aku janji setelah kamu bangun,aku gak akan membiarkanmu lagi mengejarku, kita akan jalan bersama beriringan. Selamanya. Maafin aku yang belum pernah jujur dengan perasaanku terhadapmu, bahwa aku sayang kamu. Aku berencana hari ini akan mengatakan hal itu kepadamu, dan ya itu sudah terlaksana meskipun aku gak tau kamu mendengarkannya atau tidak”
Kening Iqbal berkerut, tangannya mulai bergerak.
“Vey?”Iqbaal telah bangun dari tidur atau pingsanya.
“Iqbal?? Kamu bangun? Oh syukurlah”Vey sangat bahagia kini Iqbal telah sadar, dan Ia rasa Iqbal medengar semua curahan hatinya.
“Jadi kamu beneran sayang aku Vey? Berarti sekarang kita pacaran gak apa-apa nih?”Iqbal sangat antusias dengan topik ni, Ia seperti merasa sedang sangat sehat.
“ eh, tapi Vey mmm mending jangan pacaran sama aku deh, aku takut gak bisa jagain kamu untuk waktu yang lama, tapi kalau aku panjang umur aku bakal selalu di deket kamu kok.”
“huss.. kamu ngomong apa sih Bal,kamu bakal panjang umur kok, kamu bakal sehat lagi kayak dulu, dan kita bakal barengan terus”
Iqbal hanya tersenyum melihat perkataan Vey, Ia tampak sangat bahagia kali ini, cintanya tak bertepuk sebelah tangan lagi. Kini mereka saling menyayangi, sungguh Iqbal rasanya ingin menghentikan waktu dan selamanya seperti ini, saling menyayangi.
Tak lama setelah penuh dengan keheningan, Iqbal seperti tidur. Tapi bagaimana bisa? Beberapa detik yang lalu Ia baru saja bersuka citta, dan sekarang malah tertidur. Tunggu, rasanya ini bukan sekedar tidur.
“Bal?”Vey heran dengan sikap Iqbal yang tiba-tiba saja tertidur, tapi Iqbal juga tak menjawabnya.
“Kamu tidur, Bal? ”Ayolah jangan bercanda Bal?”tetap saja dari Iqbal taka da jawaban.
Vey mengambil tangan Iqbal, lebih tepatnya pergelangan tangannya. Ia seperti merabanya, Vey diam dan sepertinya sedang mencari-cari suatu hal, tapi Ia tidak menemukannya.
Vey segera memencet bel diatas Iqbal berbaring.
 o0o
Hujan gerimis dari tadi siang, awan yang tadinya biru menjadi mendung dan gelap. Rumput, daun, pohon pun ikut menjadi basah. Taman menjadi tak banyak yang mengunjungi meskipun ini Sabtu sore yang biasanya banyak orang yang menghuninya. Tetapi masih ada seorang yang tetap setia mengunjungi tempat ini. Iya siapa lagi kalau bukan Vey. Sejak kejadian sebulan lalu sejak Ia benar-benar kehilangan orang yang menyayanginya dan disayanginya. Tempat ini lah yang telah mendengar keluh kesah, dan kesedihan Vey, tetapi tempat ini juga yang membuatnya tegar.
Vey tak pernah absen mengunjungi tempat ini, bkan hanya sekedar untuk bersedih, dia hanya tak ingin melupakan Iqbal begitu saja. Di tempat ini biasanya Iqbal mengadu, kini Vey lah yang mewakilkannya. Iqbal memberikan surat agar Vey tidak terus-terusan sedih, dan membiarkan dia tetap ada yang menjaganya selain Iqbal. Dan Vey pun menemukannya disini.

Bersambung. . . . . . .  



 Mau ada kelanjutannya????
Komentar aja =))




isnafinda

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar