Matahari perlahan masuk melalui celah-celah
jendela kamar ini. Itu tandanya hari sudah pagi. Terlihat seorang perempuan
cantik sedang tertidur pulas di kamar ini.Cahaya menerpa gadis itu, ketika itu
pula alarmnya berbunyi. Mau tidak mau gadis itu pun harus terbangun karena
harus sekolah.
Setelah mempersiapkan diri, Vey sudah siap ke
sekolah dengan seragam putih abu-abunya. Vey berjalan menuju sekolah, karena
mobilnya sudah dibawa ayahnya sejak pagi buta tadi, Vey tidak ada tumpangan
hari ini. Dia berjalan dengan senang, sambil menikmati udara pagi, dan melihat
daun-daun yang masih basah, Vey jarang sekali mendapatkan hal seperti ini.
Memasuki kelas Vey masuk dan duduk dikursi
biasanya dekat jendela disamping sahabatnya, tapi kelas masih cukup sepi. Di
kelas baru Vey yang berangkat, padahal hari ini dia jalan kaki tapi kenapa dia
msih yang terpagi dikelas?
“Selamat Pagi Adara Veranda Myesha Larina ”
salam dari siswa kedua yang datang pagi ini, Iqbal.
“Pagi
juga Rio, tumbenan udah berangkat” sapa Vey balik.
“Iya
dong, biar bisa makin lama liat kamunya”
“Hahahahahaha”
Vey dan Rio terkekeh bersama.
Satu persatu manusia di kelas semakin
banyak pengisinya, hingga bel jam 7.10 kursi di kelas sudah mempunyai tuan
semua.
“Vey,
nanti pulang sekolah jalan yuk!” Ajakan Yara teman semejaku membuyarkan
lamunanku.
“iya
deh Ra, apasih yang enggak buat kamu” jawab Vey, tanpa menengok ke Yara
“Yeayy,
makasih ya Veranda ku” Yara tampak senang sekali, padahal sudah biasa Vey
menyanggupi ajakan Yara, tap entahlah kali ini Yara tampak lebih berbeda.
“Aku
ikut dong, masak jalan berdua doing” Iqbal tiba-tiba nimbrung.
Vey
dan Yara menengok ke belakang mencari sumber suara
“Boleh
aja, Ayo makin banyak makin seru kok” jawab Yara selalu antusias.
“ehh…”
gumam Vey tapi cukup keras.
“kenapa
Vey?” Tanya Iqbal dan Yara barengan.
“oh,
Gapapa kok, iya gabung aja” jawab Vey, yang sebenarnya Vey gak suka kalau Iqbal
ikut, tapi yasudahlah sekali ini saja, atau selanjutnya juga? Entahlah.
“Heh,
kalian jangan berisik atau keluar dari kelas sekarang juga!!!”
Bentakan
dari Pak Hafidz guru killer matematika, mengagetkan mereka bertiga. Segera Vey
dan Yara memperbaiki sikap, dan segera menulis apa yang ada dipapan tulis atau
malah hanya sok menulis.
“mau
kemana kita?” Tanya Vey sambil memberesi peralatannya k etas, karena bel tanda
pulang sekolah telah berbunyi.
“mall
aja ya?? Ya ya?? Kata Yara yang sangat
antusias
“iya
deh, terserah” jawab Vey dan Iqbal barengan.
“cie
barengan jawabnya” goda Yara sambil menyikut Vey.
“Kan
jodoh Ra, masak kamu gak tau sih” jawab Iqbal sambil terkekeh.
“Apaan
sih, yuk buru keburu kesorean” Vey beridiri sambil menggandeng tangan Yara.
“Kok
aku gak ikut digandeng Vey?” kata Iqbal sok memelas.
“Isss,
ayooo bal, gak usah lebay, jijik akuu” Yara pun menggandeng Iqbal, tapi seperti
menyeret.
o0o
“Makan dulu yuk, aku
laper” ajak Vey ke kedua temannya
Mereka bertiga
memasuki sebuah restoran di sebuah mall. Duduk di meja paling pojok. Setelah
pesanan makanan mereka datang, mereka segera makan. Restoran ini tidak cukup ramai,
sehingga mereka bisa menikmati makanannya dengan nikmat.
“Aku ke toilet dulu
ya” ijin Yara, karena telah menyelesaikan makannya lebih dulu
“iya” jawab Vey
dengan mulut masih ada makanan.
Vey dan Iqbal
melanjutkan makannya dengan penuh
keheningan, hanya ada suara pertarungan antara sendok dan garpu. Ketika
gak tersisa lagi makanan di piring Iqbal, akhirnya dia memberanikan diri
bersuara.
“Vey?”
“Hmm?”
“Kamu kenapa sih sama
aku?”
“Kenapa apanya deh,
Bal? Kalau ngomong yang jelas”
“Sikapmu ke aku yang
selalu dingin. Kamu gak tau apa kalau aku itu suka sama kamu. Dan itu udah
sejak lama, sejak kamu belum jadi pacar Rio, hingga kamu udah gak sama dia
lagi. Aku masih suka sama kamu. Aku nunggu kamu. Kamu harusnya tau itu”
“Tapi bal, aku
nganggep kamu teman. Aku belum mau lagi pacaran, belum siap lagi jika hanya
untuk disakiti lagi. Kita sahabat aja” jawab Vey gemetaran, sebenarnya dia
bingung mau jawab apa, tapi entah darimana kalimat itu berasal hingga bisa
keluar dari mulutnya.
“HEIII!!!”
Yara muncul dengan
tiba-tiba dan memecahkan keseriusan mereka. Vey tampak lega, karna Vey yakin
Iqbal gak akan membahas hal itu lagi jika ada Yara.
“Muka kalian kenapa
pada tegang sih?” Yara mulai menyadari sikap mereka yan kini aneh.
“Vey, aku itu beneran
sayang kamu. Aku gak akan nyakitin kamu. Aku akan serius sama kamu. Aku bukan
mantanmu, Vey. Kamu harus tau itu.”
Vey tercengang. Iqbal
masih berani bilang? Dia kira setelah Yara datang masalah selesai, tapi
ternyata tidak.
Yara yang kini tau
permasalahannya hanya bungkam. Rasanya dia ingin pergi saja takut mengganggu,
namun dilain hal dia juga penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Entahlah Bal, aku
gak tau, dan aku gak mau tahu” Kata Vey lalu berdiri dan berlalu
o0o
Hujan gerimis yang
cukup deras, seolah ikut mengerti apa yang dialami Vey saat ini. Langit yang
gelap ditambah mendung, membuat bulan dan kawannya bintang tidak terlihat malam
itu. Yang ada hanya rintikan hujan dan dingin.
Vey hanya melamun
memikirkan perkataan Iqbal tadi. Sebenarnya Vey tau kalau Iqbal punya rasa
terhadapnya, namun Ia hanya pura-pura tidak tahu, apalagi kalau bukan itu yang
dilakukan? Wanita akan bersikap biasa jika seorang laki-laki belum mengatakan
hal yang sebenarnya. Tetapi untuk Vey, walaupun Iqbal serius menyukainya ia tetap
tidak peduli.
“Drrtt….Drrttt…”
Hp Vey bergetar,
tanda ada pesan masuk. Vey segera melupakan kejadian itu, dan mulai membuka
pesan itu
Dari Iqbal
“Malam Verandra, lagi ngapain? Jangan lupa
makan yaa J J”
Vey kembali
meletakkan handphonenya, dia benar benar tidak berselera untuk membalasnya.
Bahkan untuk membalasnya, mengetahui pesan itu dari Iqbal rasanya Vey ingin
membanting handphonenya. Tetapi Vey ingat itu handphone hasil dari tabungannya,
tidak lucu jika handphonenya remuk hanya karna seorang Iqbal.
“Drrtt…Drrttt…..”
Vey tau itu pasti
pesan dari Iqbal lagi, Ia hanya menengok ke Handphonenya dan tidak mau tau apa
isinya. Vey meanjutkan melamun, tapi bukan tentag Iqbal. Vey malah teringat
soal Rio, kekasihnya dulu. Teringat hal-hal yang manis bersamanya, kenangan
indah, sikap ramahnya terhadapnya, dan teringat pula hal yang meyebabkan
selesainya hubungan mereka. Vey tidak mau bersedih malam ini, ia segera
mengganti topik lamunannya.
“Drrtt….Drrttt…..”
Vey kali ini membuka pesan itu, dan benar saja
itu hanya dari Iqbal.
Dari Iqbal
Iya aku tau kamu
tidak menyukaiku. Tapi biarkan aku peduli dan sayang sama kamu J J
Dari Iqbal
Jangan tidur
malem-malem, jangan lupa berdoa…. GutNite J :*
o0o
Sejak saat itu, Iqbal
tidak pernah alpha untuk menyapa Vey, bahkan selalu menanyakan keadaannya.
Sebenarnya Vey sangat risih, tapi kini dia sudah terbiasa dengan hal itu.Vey
masih tidak suka dengan Iqbal. Memang Iqbal
tergolong anak yang bandel, malas belajar, sembarangan dalam melakukan hal
lain. Tetapi jangan salah, Iqbal mempunyai wajah yang lumayan, tidak sedikit
cewek yang mengidolakannya, walaupun dia malas tapi terkadang dia mendapatkan
nilai bagus ketika ulangan, karena sebenarnya memang dia bisa hanya saja malas.
selain itu dia anak basket, tidak terlalu jago sih, itu hanya hobinya namun
sudah mampu membuat para gadis berteriak menyebut namanya.
o0o
Bel
sekolah memanggil-manggil para siswa. Mengisyarakatkan agar segera masuk kelas.
Tak banyak yang memohon-mohon kepada pak satpam untuk tidak menutup gerbangnya.
"Selamat
Pagi "
Siswa
siswi segera membenarkan posisinya dan duduk di bangku masing-masing.
"hari
ini Ibu akan membagi kalian ke 2 kelompok, setiap kelompok membuat drama,
temanya bebas, namun harus dikerjakan dengan serius, deadline 4 minggu dari
sekarang. Langsung saja, kelompoknya 2 baris meja dari kanan dan 2 baris meja
kiri" jelas seorang guru Bahasa Indonesia ketika memasuki kelas
“Hari
ini kalian membahas drama kalian, karena ibu akan ada rapat, jadi saya tinggal
sebentar” tambahnya.
“Kenapa
sebentar, Bu? Lama pun kami tidak keberatan kok, Bu” jawab salah seorang siswa.
Mendengar hal itu siswa lain hanya tertawa dan membenarkan perkataannya.
Guru
BahasaIndonesia, Bu Linda telah meninggalkan kelas. Seluruh siswa telah
membentuk kelompoknya, mereka mulai mendiskusikan yang diperintah Bu Linda
tadi.
Vey
yang kebetulan sekelompok dengan sahabatnya, Yara dan fans berat Vey yaitu
Iqbal juga membahas tentang drama mereka. Mereka akan membawakan sebuah drama
tentang anak remaja, dan bertema percintaan.
“Aku
yang jadi pemeran utama cowoknya ya?” minta Iqbal dengan rasa percaya dirinya.
“Kalau
gitu aku yang pemeran utama ceweknya” saut seorang dari keompok itu, Bella.
“Jangan
Bel, jangan kamu, kamu gak cocok kayaknya kalau sama Iqbal, gimana kalau kamu
jadi orang ketiga aja. Jadi tokoh antagonis, kan kamu udah menjalaninya setiap
hari” Yara yang tidak setuju pun ikut berkomentar, sedangkan yang lain hanya
ikut tertawa cekikikan.
“Sialan kau, Ra. Tapi iya gak apa-apa
sih, daripada gak dapet peran, hehe”kata Bella
“Vey,
kamu pemeran cewek utamanya ya?”Tanya salah satu temannya, Mika.
“Hah?”
Vey yang lagi-lagi melamun pun terkaget. Pikiran dia tidak ada disini, meskipun
tubuh dan badannya di depan anak-anak ini. Tidak menengarkan teman-temannya
berbicara.
“Ya
bilang iya aja dulu”
“Iya,
iya”
“Oke
sip.Jadi pemeran utama cewek Vey yaa, dan Iqbal pemeran cowoknya. Selanjutnya
nentuin tokoh yang lain aja…”
“Haaahhhh??”
Vey tergaket lagi, namun kali ini bukan karena tidak menyimak hal yang
dibicarakan. Kaget yang berbeda.
o0o
Sudah
seminggu ini Iqbal dan Vey terus-terusan berduaan, ya hanya untuk menyelesaikan
tugas drama, dan mengemban amanat dari teman-temannya utuk menjadi tokoh utama.
Iqbal selalu saja bersemangat, Ia selalu menggoda Vey agar ia tertular suasana
hati Iqbal.
“ayolah
Vey, kamu jangan badmood gitu kalau sama aku, kita baik-baik aja lah, biar
dapet chemistry pas main peran nanti”
hampir setiap mereka latian drama Iqbal selalu mengucapkan kalimat itu.
Adegan
yang mereka perankan memang membutuhkan penjiwaan, bagaimana tidak? Di dalam
dramanya ada saja adegan saling tatap, saling mengobrol dengan penuh perasaan,
dan juga bergandengan tangan. Iqbal sangat tidak keberatan dengan sang pembuat
teks drama ini, tetapi tidak untuk Vey.
Sampai
detik ini Vey masih saja kelihatan cuek, tetapi ya tidak separah tempo dulu
lah. Iqbal pun tak pernah menyerah, tetapi Ia juga tidak berharap banyak Ia
hanya ingin agar selalu bisa menjaga dan melindunginya.
Oo0o
Seperti hari-hari yang lalu, Iqbal akan ada
disini saat hati sedang bergelayut gundah. Sejak Iqbal
sampai disini matanya tak lepas dari arakan awan hitam di langit. Gumpalan awan
yang begitu tebal, menutupi mentari sore melepas sinarnya. Hingga membuat
semburat jingga di ujung barat mewarnai langit biru. Menunggu langit jingga
menjadi hitam, dan gelap. Selama itu,Ia menikmati
angin sore, sambil berjalan-jalan melihat lampu taman yang akan mulai nyala.
“Kamu??”
Sapa Iqbal kepada sesosok orang yang sangat ia
kenali. Ia kaget karena yang selama ini dia lamunkan juga berada di tempat yang
sama.
“Iqbal?? Kamu ngapain ada disini? Jangan bilang
ngbuntutin aku? Hayo ngaku!” Vey yang juga tak kalah kagetnya malah menuduh
Iqbal.
“Enak aja. Meskipun aku suka kamu, tapi aku
terlalu gak ada kerjaan kalau sampai ngbuntutin kamu. Aku kan juga punya
kehidupan sendiri, tetapi dasarnya aja kita jodoh jadi ya ditemuin dimana saja
dan kapan saja” Iqbal membela diri.
“Iyain aja deh”
“Kamu sendirian aja? Mending kita jalan berdua
aja, eh, maksutnya jalan bareng, eh maksutnya nikmatin sore ini bareng gitu
biar gak bosen” Iqbal menjadi salah tingkah sendiri ketika dihadapan Vey.
Yang tadinya ngobrol berhadapan, kini Iqbal
sudah berdiri disamping Vey, mereka akan melewati sore ini bersama. Selama ini
masih diam, Iqbal dan Vey sibuk dengan pikiran masing-masing, atau malah sedang
memikirkan apa topik yang akan mereka bicarakan
“Kamu sering kesini?” Tanya Vey mengawali
percakapan.
“Iya, kalau aku lagi kesepian, lagi kacau, lagi
banyak pikiran aku selalu kesini. Pasti kamu jarang kesini ya? Atau malah baru
pertama ini?”
“Hahahah iya sih baru pertama kali ini, dan ini
sore yang indah. Sayang banget aku baru menyadari tempat ini hari ini.Kalau
saja aku tau dari dulu pasti sore ku gak akan membosenkan”
“Jadi, setiap sore kamu bakalan kesini? Ini sih
belum apa-apa,tunggu aja nanti sunset, itu sangat luar biasa”
o0o
Hari ini terasa aneh. Sudah 2 hari ini tidak
ada kabar dari Iqbal.Vey merasa gelisah, berbagai pertanyaan memenuhi
kepalanya, hingga dia bingung mau mencari jawaban yang mana terlebih dahulu.
Vey tau tidak ada hubungan yang lain diantara mereka,namun Vey sudah mulai
nyaman dengannya atau bahkan sudah mulai suka. Vey sempat berpikir apabila Iqbal
menyatakan perasaannya sekali lagi, dia tidak akan memberikan jawaban yang
membuat hati Iqbal kecewa. Namun, sampai saat ini pernyataan itu belum
dilakukan kembali oleh Iqbal. Sempat terbesit pula pertanyaan oleh Vey apakah
dia sudah mulai lelah mengejarnya, Vey hanya ingin jawaban tidak.
Dering telepon Vey berbunyi. Dia sangat
berharap orang itu yang menghubunginya, dia benar-benar kangen padanya.
Secepatnya Vey akan mengatakan hal jujur kepada Iqbal.
“Halo”
“Hai, Vey ya??”
“Iqbal?? Ini beneran kamu Bal? kamu kemana aja selama
ini? Udah 2 hari ini kamu gak ada tanda-tanda kehidupannya”
“Hehehe maaf ya cantik. Kamu kangen aku ya?
Kemarin aku diajakin orang tua aku ke luar kota. Terus aku keasyikan main,
terus lupa sama kamu”
“Oh, gitu” ada nada kecewa pada Vey, dia mulai
kesal dengan orang yang baru saja iya kangenin.
“Hahahahah, santai to, Aku bercanda kok.
Kemarin itu aku emang main, jadi sibuk gitu. Tapi aku gak lupa kamu lah, aku
mau ngehubungin kamu tetapi handphoneku lowbat
terus”
Mendengar pernyataan Iqbal, Vey di seberang
sana hanya senyam-senyum meskipun belum terobati oleh kekangenannya dengan
Iqbal. Tapi seenggaknya sudah membuat Vey tersenyum lagi.
“Halo”
“Vey?? Kamu disana?’
“eh iya, Bal. Apa?”
“kebiasaan banget deh suka ngelamun. Ohiya
besok liat sunset yuk,sama aku pengen bilang sesuatu ke kamu. See you, I love
you heheh”
Tut..tut…tut…tut…Handphone Iqbal sudah
dimatikan.
“I love you too Iqbal” jawab Vey, meskipun iya
tau Iqbal tidak akan pernah mendengar kata yang diucap Vey barusan.Namun Vey
tetap tersenyum, dan merasakan lega selega-leganya.
o0o
Hening menyapa senja ini, warna langit yang
biru pun mulai memudar, matahari mulai menghilang perlahan lahan. kupu-kupu
kuning bermotif indah itu meliuk liuk mengikuti irama sungai. Seseorang yang sangat
diharapkan tak kunjug memperlihatkan sosoknya. Atau mungkin dirinya lupa? Atau
lupa jalan kemari? Rasanya mustahil.
Menit
tiap menit berlalu sebentar lagi langit jingga akan berubah menjadi gelap.
Namun, pria itu belum datang juga, ini mengecewakan.
“Drrttt…..drrtttt….drrtttt…”
Meskiun handphonenya begetar dalam tasnya,
namun Vey peka. Dia langsung mengangkat telephone. Tersura wajah bahagia di
wajahnya. Tiba-tiba
“Apa???? Oke saya akan kesana sekarang “
Mendengar perkataan lawan bicara Vey, Ia
langsug segera bergegas menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan tidak ada
ketenangan dalam dirinya. Ia hanya berdoa agar Iqbal diberi umur panjang dan
mereka bisa bersama lagi.
Terlihat
keluarga Iqbal telah menunggu di depan kamar di sebuah rumah sakit. Tidak jauh
beda dengan Vey, mereka juga memasang wajah cemas. Ibunya Iqbal yang sejak tadi
mondar-mandir di depan pintu kamar Iqbal mulai sadar akan kedatangan Vey.
Ibunya Iqbal yakin bahwa itu Vey, gadis yang selama ini sering diceritakan oleh
Iqbal, yang Ia sayangi dan yang memotivasi untuk hidupnya.
“Permisi, Tan, sebenarnya apa yang terjadi pada
Iqbal? Kenapa tiba-tiba dia sakit? Sakit apa, Tan? Kenapa saya tidak pernah tau
apa-apa?” Tanya Vey memberanikan diri. Bukan tidak berani sih, hanya saja Vey masih
malas berbicara, karena pikirannya terpenuhi oleh Iqbal.
“Kamu Vey ya?Jadi begini sebenarnya Iqbal itu
sakit, dia sakit kanker paru-paru stadium empat. Iqbal bilang kepadaku kalau
dia tidak mau ada yang tau soal hal itu. Dia tidak mau dikasihani oleh
teman-temannya termasuk dengan mu, Ia ingin hidup normal seperti kalian, jadi
Tante menyiyakan permintaannya”
Deg. Mendengar penjelasan Mamanya Iqbal, Vey
tidak bisa lagi membendung air matanya. Mama Iqbal mendekati Vey, dan
memeluknya. Mereka menangis bersama.
“Tidak hanya itu, Vey. 2 hari lalu dia di rawat
di rumah sakit. Awalnya Iqbal mulai batuk
terus menerus, seluruh badannya terasa nyeri, dahaknya pun bercampur dengan
darah dan pada akhirnya dadanya terasa sangat sakit. Segera Iqbal Tente larikan kesini, dia 1
hari kemarin sempat tidak sadarkan diri,sehari berikutnya dia mulai bangun, dia
bilang ke Tante untuk tetap tidak memberitahukanmu, padahal hari itu Tante akan
menelponmu dan membiarkanmu disini untuk menjaganya. Kemarin sore dia sudah
diijinkan pulang oleh dokter, tetapi masih harus istirahat instensif dirumah.
Namun Iqbal keras kepala, Ia memohon-mohon pada tante agar dia boleh menemuimu
esoknya, atau tepatnya sore ini. Tantepun menyiyakannya lagi, karena Tante
tidak mau melihat kekecewaan pada wajahnya. Tetapi tadi ketika ia hendak
berangkat penyakitnya kumat lagi.”
Jadi Iqbal bohong terhadapnya? Yang katanya
sedang ke luar kota, ternyata malah terbaring lemas di ranjang rumah sakit.
Yang katanya sibuk bermain, ternyata sibuk melakukan penyembuhan. Hati Vey
sangat sakit, dia membeci dirinya sendiri, mengapa Vey tidak mengetahui hal
ini? Dan mengapa Iqbal bisa mentupi hal ini dengan cerdas.Air mata Vey semakin
cerdas.
Ketika
itu, dokter keluar dari kamar, mempersilahkan kami masuk satu-persatu. Mama
Iqbal mempersilahkanku masuk terlebih dahulu, Ia tahu perasaanku. Vey yang
merasa sangat kangen dengan Iqbal
mengapa harus bertemu dengan cara yang seperti ini.
Perlahan Vey membuka kamar itu, dilihatnya
seseorang dengan pakaian longgar berwarna hijau muda. Dimana banyak selang yang
menghiasi tangan dan wajahnya, namun Iqbal tetap terlihat tampan. Vey mendekat,
Ia duduk di kursi samping kasur Iqbal telelap.Vey mengampil tangan Iqbal,
meletakkannya di pipi Vey. Dia benar-benar merindukannya.
“Bal,
kamu bangun dong. Aku beneran kangen sama kamu. Kamu udah lelah ya
ngejar-ngejar akunya? Aku janji setelah kamu bangun,aku gak akan membiarkanmu
lagi mengejarku, kita akan jalan bersama beriringan. Selamanya. Maafin aku yang
belum pernah jujur dengan perasaanku terhadapmu, bahwa aku sayang kamu. Aku
berencana hari ini akan mengatakan hal itu kepadamu, dan ya itu sudah
terlaksana meskipun aku gak tau kamu mendengarkannya atau tidak”
Kening
Iqbal berkerut, tangannya mulai bergerak.
“Vey?”Iqbaal
telah bangun dari tidur atau pingsanya.
“Iqbal??
Kamu bangun? Oh syukurlah”Vey sangat bahagia kini Iqbal telah sadar, dan Ia
rasa Iqbal medengar semua curahan hatinya.
“Jadi
kamu beneran sayang aku Vey? Berarti sekarang kita pacaran gak apa-apa nih?”Iqbal
sangat antusias dengan topik ni, Ia seperti merasa sedang sangat sehat.
“
eh, tapi Vey mmm mending jangan pacaran sama aku deh, aku takut gak bisa jagain
kamu untuk waktu yang lama, tapi kalau aku panjang umur aku bakal selalu di
deket kamu kok.”
“huss..
kamu ngomong apa sih Bal,kamu bakal panjang umur kok, kamu bakal sehat lagi
kayak dulu, dan kita bakal barengan terus”
Iqbal
hanya tersenyum melihat perkataan Vey, Ia tampak sangat bahagia kali ini,
cintanya tak bertepuk sebelah tangan lagi. Kini mereka saling menyayangi,
sungguh Iqbal rasanya ingin menghentikan waktu dan selamanya seperti ini,
saling menyayangi.
Tak
lama setelah penuh dengan keheningan, Iqbal seperti tidur. Tapi bagaimana bisa?
Beberapa detik yang lalu Ia baru saja bersuka citta, dan sekarang malah
tertidur. Tunggu, rasanya ini bukan sekedar tidur.
“Bal?”Vey
heran dengan sikap Iqbal yang tiba-tiba saja tertidur, tapi Iqbal juga tak menjawabnya.
“Kamu
tidur, Bal? ”Ayolah jangan bercanda Bal?”tetap saja dari Iqbal taka da jawaban.
Vey
mengambil tangan Iqbal, lebih tepatnya pergelangan tangannya. Ia seperti
merabanya, Vey diam dan sepertinya sedang mencari-cari suatu hal, tapi Ia tidak
menemukannya.
Vey
segera memencet bel diatas Iqbal berbaring.
o0o
Hujan
gerimis dari tadi siang, awan yang tadinya biru menjadi mendung dan gelap. Rumput,
daun, pohon pun ikut menjadi basah. Taman menjadi tak banyak yang mengunjungi meskipun
ini Sabtu sore yang biasanya banyak orang yang menghuninya. Tetapi masih ada
seorang yang tetap setia mengunjungi tempat ini. Iya siapa lagi kalau bukan
Vey. Sejak kejadian sebulan lalu sejak Ia benar-benar kehilangan orang yang
menyayanginya dan disayanginya. Tempat ini lah yang telah mendengar keluh
kesah, dan kesedihan Vey, tetapi tempat ini juga yang membuatnya tegar.
Vey
tak pernah absen mengunjungi tempat ini, bkan hanya sekedar untuk bersedih, dia
hanya tak ingin melupakan Iqbal begitu saja. Di tempat ini biasanya Iqbal
mengadu, kini Vey lah yang mewakilkannya. Iqbal memberikan surat agar Vey tidak
terus-terusan sedih, dan membiarkan dia tetap ada yang menjaganya selain Iqbal.
Dan Vey pun menemukannya disini.
Bersambung.
. . . . . .
Mau ada kelanjutannya????
Komentar
aja =))

0 komentar:
Posting Komentar